3D Print Untuk Makanan? Emang Bisa?

”Creating food is the most delicious application of 3D printing.” Ungkap Franklin Houser, penulis dari website ALL3DP, website yang menyediakan berbagai informasi mengenai 3D printing.

Source: 3dbyflow.com

Di jaman teknologi masa kini, 3D print merupakan sesuatu yang inovatif serta membantu dalam hal menciptakan hal yang bersifat “customize”. 3D print yang selama ini dikenal oleh masyarakat adalah 3D print yang menggunakan filament atau plastic yang dipergunakan untuk membuat model benda berskala kecil. Namun apakah kalian tahu? Ada berbagai macam jenis 3D printing yang ada di dunia, seperti Stereolithography (SLA), Selective Laser Sintering (SLS), Selective Laser Melting (SLM), Digital Light Processing (DLP), Fused Deposition Modelling (FDM), dsb.           

Penggunaan 3D print pun dari yang semulanya digunakan untuk mencetak model dari plastik, hingga kini bisa digunakan dalam pembuatan mesin mobil, sepatu, hingga makanan yang bisa dikonsumsi oleh manusia.

Jika membicarakan tentang produk yang bisa dikonsumsi, tentu saja terdapat berbagai macam persyaratan yang harus dipenuhi agar produk yang dikonsumsi tidak berbahaya bagi konsumen. Namun bagaimana caranya kita tahu jika 3D print yang kita gunakan untuk membuat makanan sudah sesuai dengan standard yang berlaku bagi makanan, atau bisa kita sebut apakah material dari 3D print sudah termasuk dalam material “food grade” , yaitu material yang sudah diuji kelayakannya dan terbukti aman untuk dikonsumsi manusia atau tidak bermasalah meskipun bersentuhan langsung dengan produk makanan.

Penekanan aspek “food grade” pada proses pembuatan makanan sangatlah esensial bagi para pelaku industri makanan. MSDS dari material pun juga menjadi salah satu cara standarisasi yang dilakukan agar material dari 3D print dapat terbukti aman untuk dipakai mengolah makanan. Dalam membuat MSDS 3D printer, perusahaan 3D print yang terkait pun harus juga ikut andil dalam keterbukaan mengenai info-info bahan yang digunakan dalam membuat 3D printer. Karena pada umumnya kegunaan 3D print adalah untuk membuat model yang bahannya cenderung berupa plastik, logam dan sejenisnya. Maka produksi dari 3D print makanan harus dikhususkan sendiri agar data mengenai material tidak bercampur. Dalam kasus ini peran dari teknik industry pun dibutuhkan dalam menyusun MSDS serta memastikan agar pemisahan antar produksi 3D print biasa dan 3D print makanan berjalan masing-masing dengan terpisah.

Source: 3dbyflow.com

Perbedaan dari 3D print makanan dan 3D print biasa, dapat terlihat dari segi bahan dan material perangkat mesin. Bahan yang digunakan oleh 3D print makanan tentunya tidak berbentuk gulungan seperti 3D print biasa, 3D print makanan membutuhkan bahan yang memiliki tingkat kecairan tertentu dan harus dimasukkan kedalam wadah seperti jarum suntik agar bisa diekstrusi kemudian. Untuk material perangkat mesin  yang digunakan tentunya terletak pada jenis dari material yang harus termasuk kedalam material “food grade”. Bagian dari 3D print makanan yang perlu menggunakan material “food grade”, yaitu bagian yang berhubungan langsung dengan bahan makanan. Seperti print head, nozzle dan print bed surface.

By : Evan Amrullah Alban (Mahasiswa Teknik Industri ’17)

Ingin tahu lebih dalam tentang ilmu yang dipelajari di sini? Ayo segera bergabung bersama Teknik Industri ISTTS. Untuk informasi selengkapnya, silakan klik link PMB Teknik Industri ISTTS ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s