KARAKTER MANUFAKTUR GLOBAL : Manufaktur Awan, Manufaktur Zaman Now

Tatanan industri manufaktur global benar-benar ‘kacau balau’ akibat perubahan teknologi yang sangat cepat dan tak terduga arahnya. Internet of Thing (IoT) dan Cyber-Physical Systems (CPS) sudah menyentuh seluruh sendi kegiatan industri manufaktur di banyak negara maju. Pemanfaatannya berkembang luar biasa. Yang awalnya untuk memonitor kondisi produksi di tempat jauh, saat ini benar-benar digunakan untuk mengendalikan jalannya produksi lintas batas geografi.

Stanley Black and Decker, perusahaan manufaktur pembuat alat pertukangan terbaik di dunia versi The Hartford Couran, menerapkan IoT untuk mengawasi salah satu kegiatan produksinya di Meksiko, langsung dari kantornya di AS. Teknologi blockchain –awalnya digunakan industri keuangan–dipadukan dengan IoT berhasil mengurangi berbagai pemborosan operasional dan kegiatan perawatan pesawat di industri penerbangan. Boeing salah satu penggunanya.

Sampai 2010-an, robotika dengan kemampuan operasional serba otomatis masih jadi bayangan sistem manufaktur masa depan. Ide awalnya, robotika disiapkan sebagai pengganti peran manusia dalam sistem produksi skala besar, fokus pada replikasi dan pemenuhan standarisasi. Realita tampaknya akan sangat berbeda sejak kehadiran Cobotic (colaborrative robotic).

Cobot dihadirkan manusia sebagai ‘teman mekanik’ yang siap membantu dirinya dengan cepat, akurat, dan pintar. Belum usai decak kagum terhadap aplikasi teknologi 3D printing yang makin luas, peneliti MIT menghadirkan teknologi yang lebih dahsyat yaitu 4D printing (shape-morphing system). Teknologi ini memampukan sebuah produk membentuk atau merakit dirinya sendiri secara otomatis (self-assembled) saat bereaksi dengan material atau karakteristik lingkungan tertentu.

Siapa yang tidak kenal Just in Time atau The Toyota Way? Beberapa tahun lalu, konsep manajemen manufaktur yang ‘memaksa’ sebuah pabrik memiliki zero inventory ini kerap menimbulkan perasaan was-was bagi para pemasoknya. Sekarang? Just in Time menjadi filosofi yang sangat normatif dalam bisnis manufaktur di era milenial, bahkan bagi perusahaan skala kecil dan menengah.

Setiap produk dapat diproduksi berapa saja dan kapan saja (manufacturing on demand). Ibarat hantaman gelombang laut yang bernafsu mengubah wajah pantai, perkembangan teknologi yang sangat cepat dan signifikan sejak jauh hari sudah diprediksi akan mengubah wajah model sistem manufaktur dunia.

Tapi ternyata ada fenomena lain yang tidak kalah menarik, yaitu bagaimana cara warga penghuni ‘pantai’ manufaktur menyikapinya. Ogah terus menerus didikte perubahan teknologi, para pelaku manufaktur berinisiatif memodifikasi wajah pantai (baca: sistem manufaktur) untuk menghantam balik tsunami teknologi. Pengetahuan, konektivitas, dan berbagi sumber daya yang diadopsi dari cloud computing jadi senjata utama mereka.

Bo Hu Li dan Lin Zhang (2010) menyebut konsep ini Cloud Manufacturing (CMfg) atau manufaktur awan. Tidak berhenti pada ‘berbagi’ soft resource, konsep ini berlanjut pada sistem berbagi hard resource. Serupa dengan yang dilakukan AirBnB di sektor industri hospitality atau Uber di sektor transportasi, siapa saja orang yang memiliki sumber daya relevan, asal terhubung dalam jaringan manufatur (networked manufacturing), dapat menjadi pengusaha manufaktur tanpa harus memiliki pabrik secara utuh!

Seperti struktur breakwater di lepas pantai, langkah strategis ini sepertinya bakal ampuh ‘memecah’ gelombang teknologi dan memaksa produsen teknologi ikut beradaptasi. Mau tidak mau, para pengembang teknologi mesti berlomba mengembangkan 3D printing, cobots, mesin CNC, RFID, ERP, dan lainnya untuk kepentingan ‘usaha’ manufaktur berskala kecil dan menengah! Kalau sudah begini, siapa ‘mengacaukan’ siapa?

Berbagi dan Konektivitas

Karakteristik sistem manufaktur awan sangat berbeda. Sumber daya besar dipecah dan disebar, sementara sumber daya kecil diintegrasikan. Tergantung situasi dan kondisi pasar. Internet menjadi salah satu teknologi ‘ajaib’ yang mampu mengkomunikasikan dua strategi manajemen sumber daya berlawanan ini secara bersamaan.

Biaya tetap (fixed cost) pengelolaan sumber daya diminimalkan, waktu proses dipersingkat. Skalabilitas dan ketersediaan sumber daya menjadi kriteria seleksi input produksi yang sangat penting. Secara fisik, material-material di era Revolusi Industri 4.0 ini makin ringan dan mudah dibentuk. Namun kekuatan mekaniknya makin besar.

Perkembangan teknologi dan ilmu bahan sangat memungkinkan hal tersebut. Graphene salah satunya. Dimensi fisik fasilitas produksi dan piranti industrial material handling makin kecil tapi kapabilitasnya makin besar dengan fleksibilitas gerakan multi-axis meningkat drastis.

Bagaimana dengan sumber daya manusia? Sampai 2015-an lalu, (mungkin) banyak perusahaan masih ‘menyombongkan diri’ sebagai perusahaan yang dicari setiap calon pekerja. Sekarang? perusahaan mulai bingung mencari pekerja berkeahlian yang notabene generasi Z angkatan pertama. Kompetensi pekerja dari generasi ini makin banyak yang bersifat tacit alias tersembunyi, sukar dipelajari secara formal.

Secara organisasional, ukuran perusahaan manufaktur makin kecil. Struktur makin datar, rentangnya kendalinya makin sempit. Lebih dari sekadar eksternalisasi atau outsourcing yang penuh potensi konflik industrial, fungsi-fungsi primer seperti inbound logistic, produksi, outbound logistic, pemasaran, dan pelayanan konsumen di zaman manufaktur awan benar-benar tercerai berai dari struktur fungsional perusahaan manufaktur konvensional.

Sistem persediaan bahan baku dan barang mulai hilang, diganti fungsi logistik multi kapasitas-tepat waktu yang bisa disediakan siapa saja di luar organisasi. Forecasting dan penjadualan produksi lagi-lagi akan ditangani kolaborator yang sangat pintar yaitu Internet.

Siapa pun dengan keahlian desain, manajemen, dan segudang soft-skill lainnya dapat berperan sebagai operator atau kontributor mata rantai pendukung dalam jejaring manufaktur awan dengan tingkat keamanan digital yang sangat tinggi.

Siapa pun dapat ‘meminjamkan’ sumber daya yang dimilikinya untuk kepentingan manufaktur. Semakin kreatif mengatur kapasitas sumber daya, makin tinggi kemampuan pemilik sumber daya meningkatkan nilai tambah ekonomi di setiap aktifitasnya.

Manufaktur awan adalah wajah baru sistem manufaktur global. Pengetahuan adalah energi dasarnya, berbagi sumber daya (resource sharing) dan konektivitas cerdas jadi mekanisme utamanya. Tingkat efisiensi dan efektifitas bukan lagi dua parameter kinerja produksi yang bertentangan. Dalam manufaktur awan, keduanya menjadi mungkin untuk disandingkan.

Paradigma model manufaktur awan adalah jasa, bukan lagi produksi. Value chain telah terdekonstruksi. Bertransformasi menjadi Cloud Based Value Chain yang sangat fleksibel dan adaptif. Lupakan strategi penciptaan tembok-tembok regulasi yang sangat resistif, apalagi represif karena hanya membuat produk manufaktur kita jadi tidak kompetitif.

Mau tidak mau, siap tidak siap, manufaktur awan adalah manufaktur zaman now.

Sumber

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s