International Workshop “Production System Simulation” bersama Dr. Benny Tjahjono, M.Sc. ( Crandfield University UK )

Dalam rangka memeriahkan Hari Pendidikan Nasional 2017,  Jumat 5 Mei 2017, jurusan Teknik  Industri  STTS,  menyelenggarakan  acara  bertajuk  “Pembelajaran  Kreatif  dan  Simulasi  Lean  Production System”. Tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah meningkatkan kapabilitas  mahasiswa Jurusan Teknik Industri STTS dalam mengelola sistem produksi di industri manufaktur  modern.

Dalam acara yang dipandu oleh Dr. Benny Tjahjono, M.Sc, dosen dan peneliti senior dari Cranfield  University‐UK, mahasiswa jurusan Teknik Industri STTS akan dibekali pengetahuan dan keahlian  tentang Lean Production System yang akan sangat mereka butuhkan saat masuk ke dunia kerja,  khususnya  ketika  berhadapan  dengan  insinyur‐insinyur  dari  negara  lain  di  era  pasar  bebas,  termasuk MEA.

Sesuai skenario pembelajaran kreatif yang dirancang Benny Tjahjono –yang juga alumni STTS‐  tujuh belas mahasiswa jurusan Teknik Industri STTS dari berbagai semester membentuk  sebuah kelompok yang telah diatur sedemikian rupa secara melingkar agar dapat menjalankan  sebuah sistem produksi dalam industri manufaktur yang lean (ramping). Kegiatan ini menjadi  semakin menarik karena obyek yang digunakan justru mainan bongkar pasang (Lego) yang biasa  digunakan oleh anak‐anak. Metode pembelajaran yang “fun” ini, ternyata telah diterapkan di  banyak negara maju, tidak hanya di perguruan tinggi tapi juga di industri manufaktur besar. Lewat  proses  merakit  lego,  mahasiswa  akan  melihat  bagaimana  transportasi  material  di  pabrik,  keberadaan  stok  (inventory),  gerakan  (motion),  menunggu  (waiting),  over  processing,  over  production,  dan  cacat  pada  produk  (defect)  mempengaruhi  efektifitas  dan  efisiensi  sistem  produksi.

Kegiatan simulasi sistem produksi hasil kerjasama Jurusan Teknik Industri STTS, Kantor Urusan Internasional  STTS, dan Cranfield University‐UK ini ditonton langsung oleh puluhan mahasiswa dan dosen di sekitar area
kegiatan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang  bersifat observasional.

Acara dibuka dengan sambutan oleh bapak Tigor selaku Ketua Prodi Teknik Industri STTS

Setelah setiap mahasiswa Teknik Industri STTS telah mendapatkan perannya masing-masing barulah Mr. Benny (sapaan akrab) menjelaskan bagaimana permainan tersebut akan berjalan. Pertama-tama Mr. Benny menjelaskan peran dari Master Scheduler  yang berperan untuk memeritahukan jadwal perencaan produksi kepada bagian Machining. Machining memiliki peran untuk memproduksi barang setengah jadi yang nantinya akan didistribusikan kepada bagian Assembly untuk dirakit. Assembly berperan aktif dalam proses perakitan suatu produk yang dalam perakitannya harus sesuai dengan urutan perakitan yang benar. Setelah proses perakitan selesai (Assembly) proses selanjutnya adalah Heat Treatment yang merupakan proses terlama dalam kegiatan ini, Heat Treatment merupakan sebuah proses peng-ovenan suatu produk yang membutuhkan waktu sebanyak 80 detik. Proses Heat Treatment selesai, barulah produk tersebut dikirimkan ke bagian Quality Control (QC) yang memiliki tugas untuk meng-inspeksi suatu produk dengan standart yang telah ditetapkan dengan tujuan mencapai kualitas yang diharapkan. Setelah produk diseleksi oleh pihak Quality Contol dan produk tersebut telah masuk lolos, maka tahap selanjutnya adalah produk tersebut dikirimkan ke bagian Warehouse untuk nantinya dikirimkan ke Customer. Namun jika produk gagal lolos pada proses pengecekan kualitas, maka produk tersebut nantinya akan di kembalikan ke bagian Assembly untuk diproses kembali.

Ada juga peran yang lain diantaranya, Store yang bertugas sebagai supplier bahan baku yang menyediakan keperluan bahan baku kepada perusahaan. Ada juga Material Handling yang berperan sebagai penyalur material kepada beberapa divisi diantaranya Machining, Assembly, Heat Treatment, Warehouse, Store. Pada saat permainan dimulai, Factory Director berperan untuk mengecek dan mengatur jalannya produksi dari awal sampai akhir. Dan pada setiap akhir permainan, Accountant bertugas untuk menghitung berapa banyak data yang diperoleh antara lain: On Time, Late, Not Met, Work in Progress, Finish Good Inventory, Lead Time, dan juga Reject.

Permainan tersebut memiliki 4 babak, Pada babak pertama seluruh pemain bermain pada porsinya masing-masing dan ternyata hasil yang dicapai sangatlah jauh dari kata baik. Hal itu dikarenakan Standart Operating Procedure (SOP) yang kurang baik membuat pekerja kesulitan dalam mengerjakan pekerjaannya. Dan hal yang kedua adalah dari Batch Size yang terlalu besar menyebabkan persediaan gudang dengan permintaan customer mengalami collapse.

Pada Babak kedua dimulai dengan penggantian SOP yang lebih baik dan mengecilkan ukuran Batch, Hasil dari babak kedua mendapatkan hasil yang lumayan baik daripada pada babak pertama, Namun hal itu belum cukup, masih ada yang harus diperbaiki karena pada saat babak kedua berjalan banyak produk yang gagal lolos dalam tahap penyeleksian oleh QC.

Babak ketiga dimulai dengan menghapus peran QC dan diganti dengan istilah QA (Quality Assurance) dimana QA dapat menyeleksi sendiri produk tersebut baik atau layak lolos untuk proses selanjutnya. Dan hasil dari babak ketiga ini memang cukup signifikan namun ternyata masalah kembali muncul, yaitu pada bagian Heat Treatment, Kenapa? karena pada bagian Heat Treatment , oven yang digunakan hanya dapat berjalan ketika produk yang akan dioven berjumlah 8 dan juga waktu yang dibutukan sangat lama yaitu 80 detik.

Babak keempat dimulai dengan banyak penyesuaian, yang pertama adalah perubahan layout yang lebih baik guna mendekatnya proses satu ke proses yang lainnya. Lalu pemberian batas maximum sebuah proses untuk membatasi produksi suatu barang yang dapat mengakibatkan over stock atau over process. Dan juga penggantian mesin oven yang baru dimana oven dapat digunakan jika sudah ada dua produk yang akan dioven dan dengan waktu peng-ovenan sebesar 20 detik. Dan hasil dari babak keempat sangat baik, karena tidak ada barang yang tidak tepat waktu dan meminimalkan Work in Progress serta produk yang di reject.

  

Pada permainan ini menerapkan sistem produksi Just In Time dimana sistem tersebut telah diterapkan banyak perusaahan besar Jepang. Keunggulan dari sistem Just In Time adalah mengurangi kerugian akibat menimbun barang, mempermudah proses pengendalian produksi, memperkecil scrap yang terjadi dalam setiap proses. Sedangkan kelemahan dari sistem Just In Time adalah proses ini tidak efektif digunakan untuk memprouksi produk dengan varian yang begitu banyak karena nantinya akan merubah susunan layout yang telah dibuat, pada saat perusahaan menerima banyak permintaan akan sangat sulit untuk memenuhi permintaan tersebut.

Acara ditutup dengan foto bersama Mr. Benny, Bapak dan Ibu dosen Teknik Industri, dan Mahasiswa Teknik Indutsri STTS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s